Amarulla Octavian Wakil Kepala BRIN: Ilmuwan Pertahanan Penggerak Riset Nasional

13 min read

featured amarulla octavian wakil kepala brin ilmuwan pertah

D alam lanskap riset dan inovasi nasional Indonesia yang terus berkembang, kehadiran sosok pemimpin yang visioner dan berpengalaman menjadi krusial. Salah satu figur sentral yang kembali mendapatkan kepercayaan untuk mengemban peran penting adalah Laksamana Madya TNI (Purn.) Dr. Amarulla Octavian. Penunjukan kembali beliau sebagai Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, bersamaan dengan pelantikan Dr. Arif Satria sebagai Kepala BRIN, menandai babak baru dalam upaya Indonesia mengukuhkan diri sebagai kekuatan riset dan inovasi yang diperhitungkan di kancah global. Artikel ini tidak hanya sekadar mengulas berita pelantikan, melainkan akan menyelami secara komprehensif profil, rekam jejak, serta visi Amarulla Octavian yang unik. Dengan latar belakang militer yang disiplin, pengalaman akademik yang luas hingga jenjang doktor, dan kepemimpinan di institusi pendidikan pertahanan ternama, beliau membawa perspektif yang kaya dan multidimensional ke dalam tubuh BRIN. Anda akan menemukan bagaimana perpaduan keahlian di bidang pertahanan, ilmu pengetahuan, dan inovasi ini diharapkan mampu mendorong sinergi yang lebih kuat antara dunia riset dengan kebijakan strategis negara. Pembahasan mendalam ini akan menguraikan perjalanan karir beliau, kontribusinya di Universitas Pertahanan, serta potensi dampaknya terhadap arah riset dan inovasi Indonesia di masa mendatang, memastikan Anda memperoleh pemahaman utuh mengenai sosok di balik salah satu lembaga paling strategis di Indonesia ini.

Amarulla Octavian Wakil Kepala BRIN: Peran Strategis dalam Inovasi Nasional

Pelantikan Laksamana Madya TNI (Purn.) Dr. Amarulla Octavian sebagai Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali pada tanggal 10 November 2025, adalah sebuah penegasan atas kepercayaan pemerintah terhadap kapasitas dan rekam jejak beliau. Jabatan Wakil Kepala BRIN memiliki bobot strategis yang signifikan, terutama dalam mendukung Kepala BRIN, Dr. Arif Satria, dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan riset, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi. Dalam konteks nasional, BRIN adalah lembaga sentral yang bertanggung jawab mengintegrasikan seluruh ekosistem riset di Indonesia, mulai dari lembaga penelitian pemerintah, universitas, hingga industri. Ini adalah tugas maha berat yang membutuhkan kepemimpinan yang kuat, pemahaman mendalam tentang berbagai disiplin ilmu, serta kemampuan manajerial yang mumpuni.

Peran Amarulla Octavian di BRIN diharapkan dapat menjadi jembatan antara kebutuhan pertahanan negara dengan kapasitas riset ilmiah. Dengan pengalaman bertahun-tahun di lingkungan militer dan akademik, beliau membawa disiplin, ketegasan, dan visi strategis yang sangat dibutuhkan untuk mengarahkan prioritas riset. Misalnya, dalam pengembangan teknologi pertahanan, material canggih, hingga sistem keamanan siber, kontribusi seorang ilmuwan pertahanan seperti Octavian akan sangat relevan. Beliau tidak hanya memahami aspek teknis riset, tetapi juga implikasi geopolitik dan strategis dari setiap inovasi yang dihasilkan. Keberadaannya di pucuk pimpinan BRIN juga mengirimkan sinyal kuat bahwa riset dan inovasi di Indonesia harus selaras dengan kepentingan nasional yang lebih luas, termasuk kedaulatan dan keamanan negara. Ini menunjukkan bagaimana fokus BRIN akan menjadi lebih holistik, menggabungkan kemajuan ilmu pengetahuan murni dengan aplikasi praktis yang berdampak langsung pada ketahanan bangsa. Oleh karena itu, penunjukan kembali ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah keputusan strategis untuk memperkuat pondasi riset Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier Militer Cemerlang

Lahir di Jakarta pada tanggal 24 Oktober 1965, Amarulla Octavian memulai perjalanan karirnya di dunia militer yang keras dan penuh disiplin. Beliau merupakan alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-33 tahun 1988, sebuah institusi pendidikan tinggi yang melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik di TNI Angkatan Laut. Pendidikan di AAL tidak hanya membentuk fisik dan mental, tetapi juga membekali kadet dengan dasar-dasar ilmu kemiliteran, navigasi, hingga strategi maritim yang komprehensif. Menjadi seorang Laksamana Madya (Laksdya) adalah pencapaian tertinggi dalam hierarki kepangkatan di Angkatan Laut, setara dengan Letnan Jenderal di Angkatan Darat atau Marsekal Madya di Angkatan Udara. Pangkat ini merefleksikan dedikasi puluhan tahun, pengalaman lapangan yang luas, dan kemampuan kepemimpinan yang telah teruji dalam berbagai penugasan.

Sebelum bergabung dengan BRIN pada tahun 2023, Laksdya Octavian mengukir sejarah sebagai Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) ke-7, sebuah posisi prestisius yang menunjukkan kepercayaan negara terhadap kapasitas intelektual dan manajerialnya. Unhan adalah lembaga pendidikan tinggi di bawah Kementerian Pertahanan yang berfokus pada pengembangan ilmu pertahanan dan melahirkan para pakar strategis. Peran beliau sebagai Rektor tidak hanya sebatas administrasi, melainkan juga merumuskan kurikulum, mengembangkan riset-riset strategis di bidang pertahanan, serta membentuk karakter calon-calon pemimpin pertahanan masa depan Indonesia. Pengalaman ini sangat relevan dengan tugas di BRIN, di mana beliau diharapkan mampu mengintegrasikan perspektif pertahanan ke dalam agenda riset nasional. Selain itu, catatan karirnya juga mencakup penugasan sebagai ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebuah posisi yang memberinya pemahaman mendalam tentang mekanisme kepresidenan, kebijakan negara, dan dinamika politik di tingkat tertinggi. Pengalaman ini sangat berharga dalam memahami bagaimana riset dan inovasi dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang efektif dan berdampak luas bagi bangsa.

Perjalanan Akademik: Dari Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut hingga Doktor di UI

Meskipun memiliki rekam jejak militer yang kuat, Amarulla Octavian tidak hanya berhenti di sana. Beliau menunjukkan minat yang mendalam pada dunia akademik, sebuah jalan yang jarang ditempuh oleh perwira tinggi militer. Perjalanan akademiknya dimulai dari Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), di mana beliau berhasil meraih gelar Sarjana Teknik pada tahun 2001. STTAL sendiri merupakan institusi pendidikan yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan, mencetak insinyur-insinyur handal yang mampu mendukung modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AL dan industri maritim nasional.

Gelar sarjana teknik ini membekali beliau dengan pemahaman fundamental tentang sains dan rekayasa, yang menjadi dasar penting untuk kiprahnya di kemudian hari. Tidak puas dengan gelar sarjana, beliau melanjutkan studi ke jenjang magister di Universite Paris-Pantheon-Assas, Prancis, pada tahun 2006. Pilihan untuk menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya di salah satu universitas terkemuka di Eropa, menunjukkan komitmen beliau terhadap peningkatan kapasitas intelektual dan perluasan wawasan global. Pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional membuka cakrawala pemikiran baru dan memperkenalkan beliau pada berbagai perspektif dalam ilmu pengetahuan dan kebijakan.

Puncak perjalanan akademiknya adalah ketika beliau berhasil menuntaskan studi doktoral di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2013. Disertasinya yang berjudul “Globalisasi dan Transformasi Institusi Pendidikan TNI AL: Suatu Kajian Sosiologik atas Sekolah Staf Komando TNI AL” adalah bukti nyata dari kedalaman pemikiran dan kemampuan analisis beliau. Topik disertasi ini sangat relevan, mengkaji bagaimana institusi militer yang konservatif beradaptasi dengan gelombang globalisasi dan perubahan zaman, serta implikasinya terhadap pendidikan perwira. Ini menunjukkan bahwa Amarulla Octavian tidak hanya seorang teknokrat atau pemimpin militer, tetapi juga seorang pemikir sosial yang mampu menganalisis dinamika institusional dan struktural dalam konteks yang lebih luas. Penguasaan berbagai disiplin ilmu ini – teknik, sosial, dan pertahanan – menjadikannya sosok yang sangat multidimensional dan relevan untuk memimpin lembaga riset yang kompleks seperti BRIN.

Kepemimpinan di Universitas Pertahanan (Unhan): Transformasi Pendidikan dan Riset

Sebelum mengemban amanah sebagai Amarulla Octavian Wakil Kepala BRIN, salah satu periode penting dalam karir beliau adalah kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Pertahanan (Unhan). Unhan adalah sebuah institusi unik yang didirikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin strategis di bidang pertahanan negara, baik dari kalangan militer maupun sipil. Sebagai Rektor, Laksdya Octavian memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk visi, misi, dan arah pengembangan Unhan. Di bawah kepemimpinannya, Unhan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga pusat riset pertahanan yang relevan dengan kebutuhan strategis bangsa. Beliau berupaya memperkuat kurikulum agar lebih adaptif terhadap ancaman-ancaman kontemporer, seperti perang siber, terorisme, dan krisis kemanusiaan.

Salah satu fokus utama selama menjabat Rektor Unhan adalah modernisasi sistem pendidikan dan riset. Beliau mendorong pengembangan program studi baru yang relevan dengan tantangan keamanan abad ke-21, serta memfasilitasi penelitian-penelitian inovatif yang dapat memberikan solusi konkret bagi pertahanan Indonesia. Sebagai seorang yang berlatar belakang militer sekaligus akademisi, Amarulla Octavian mampu menjembatani dua dunia yang seringkali memiliki budaya berbeda. Beliau memahami pentingnya disiplin dan komando dalam organisasi militer, namun juga menghargai kebebasan akademik dan eksplorasi intelektual dalam lingkungan universitas. Pendekatan ini memungkinkan Unhan untuk tumbuh menjadi lembaga yang kuat secara keilmuan, namun tetap relevan dengan kebutuhan praktis pertahanan.

Transformasi yang terjadi di Unhan di bawah kepemimpinan beliau juga mencakup peningkatan kolaborasi internasional dan publikasi ilmiah. Dengan mendorong para dosen dan peneliti untuk aktif berkontribusi dalam jurnal-jurnal bereputasi, serta menjalin kerja sama dengan universitas-universitas pertahanan di luar negeri, Unhan semakin dikenal di kancah global. Pengalaman ini sangat fundamental dalam mempersiapkan beliau untuk peran di BRIN, di mana kolaborasi lintas sektor dan internasional adalah kunci untuk mencapai visi riset dan inovasi yang ambisius. Kepemimpinan di Unhan mengajarkan beliau tentang kompleksitas pengelolaan sumber daya manusia dan infrastruktur riset dalam skala besar, serta pentingnya menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan intelektual dan inovasi.

BRIN: Mandat, Misi, dan Urgensi Badan Riset dan Inovasi Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga yang memiliki peran sentral dalam menentukan masa depan riset dan inovasi di Indonesia. Didirikan melalui penggabungan berbagai lembaga penelitian dan pengembangan di bawah satu atap, BRIN memiliki mandat untuk menjadi koordinator, fasilitator, dan pelaksana riset nasional. Tujuan utamanya adalah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya ilmiah dan teknologi Indonesia agar dapat memberikan kontribusi maksimal bagi pembangunan bangsa. Misi BRIN mencakup berbagai aspek, mulai dari riset dasar hingga riset terapan, pengembangan teknologi, invensi, inovasi, hingga pemanfaatan hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat.

Urgensi BRIN dalam konteks Indonesia saat ini tidak dapat diabaikan. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan mengatasi berbagai tantangan sosial. BRIN diharapkan dapat menjadi motor penggerak untuk mencapai kemandirian dalam bidang teknologi, mengurangi ketergantungan pada produk impor, dan mendorong terciptanya nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia. Dengan mengintegrasikan berbagai sumber daya riset yang sebelumnya tersebar, BRIN memiliki potensi besar untuk menghindari duplikasi penelitian, mempercepat penemuan baru, dan menciptakan ekosistem riset yang lebih efisien dan produktif. Namun, tantangan yang dihadapi BRIN juga tidak sedikit, mulai dari harmonisasi budaya kerja antarlembaga yang berbeda, penyelarasan program riset dengan prioritas nasional, hingga pengembangan sumber daya manusia peneliti yang berkualitas.

Peran Amarulla Octavian sebagai Wakil Kepala BRIN di era kepemimpinan Kepala BRIN Arif Satria akan menjadi sangat vital dalam menavigasi kompleksitas ini. Arif Satria, sebagai akademisi cemerlang yang memimpin masa depan riset Indonesia, membawa perspektif ilmiah yang kuat. Kehadiran Laksdya Octavian melengkapi kepemimpinan BRIN dengan pengalaman manajerial, disiplin organisasi, dan pemahaman strategis dari sudut pandang pertahanan dan keamanan. Kolaborasi antara keduanya diharapkan dapat menciptakan sinergi yang optimal, di mana visi ilmiah digabungkan dengan eksekusi yang terencana dan terukur, menghasilkan riset yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga relevan dan berdampak bagi kemajuan bangsa. Anda dapat membaca lebih lanjut mengenai peran Kepala BRIN Dr. Arif Satria dalam artikel kami yang membahas Arif Satria Kepala BRIN: Akademisi Cemerlang Pimpin Masa Depan Riset Indonesia.

Foto pelantikan Amarulla Octavian sebagai Wakil Kepala BRIN oleh Presiden Prabowo Subianto

Sinergi Militer dan Riset: Kontribusi Laksdya Octavian di BRIN

Perpaduan latar belakang militer dan akademik dalam diri Amarulla Octavian menawarkan sinergi yang unik dan sangat berharga bagi BRIN. Dalam konteks militer, beliau telah terlatih untuk berpikir strategis, mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, serta memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan yang teruji. Disiplin militer yang kuat dapat diterjemahkan menjadi efisiensi operasional dan akuntabilitas dalam proyek-proyek riset yang kompleks. Sementara itu, latar belakang akademiknya memberikan beliau kedalaman intelektual, kemampuan analisis kritis, dan apresiasi terhadap metodologi ilmiah yang ketat. Ini adalah kombinasi langka yang mampu mendorong BRIN menuju efektivitas yang lebih tinggi.

Salah satu area kontribusi signifikan adalah dalam pengembangan riset yang berorientasi pada kepentingan nasional, khususnya di bidang pertahanan, keamanan, dan kedaulatan. Octavian dapat membantu mengidentifikasi prioritas riset yang selaras dengan doktrin pertahanan negara, misalnya dalam pengembangan teknologi radar, sistem pertahanan siber, atau material komposit untuk alutsista. Beliau memahami betul bagaimana hasil riset dapat diimplementasikan secara praktis di lapangan dan memiliki potensi untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan Indonesia. Lebih dari itu, pengalamannya sebagai ajudan presiden memberinya wawasan tentang bagaimana hasil riset dapat dikomunikasikan secara efektif kepada para pengambil kebijakan dan diterjemahkan menjadi program-program pemerintah yang konkret. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa investasi negara dalam riset dan inovasi benar-benar menghasilkan dampak yang signifikan.

Selain itu, Laksdya Octavian juga diharapkan dapat memperkuat aspek manajemen risiko dan keamanan dalam pelaksanaan riset, terutama untuk proyek-proyek yang melibatkan teknologi sensitif atau data strategis. Dengan pemahaman tentang protokol keamanan militer, beliau dapat membantu BRIN mengembangkan kerangka kerja yang lebih robust untuk melindungi kekayaan intelektual dan informasi strategis negara. Kemampuan untuk mengelola tim multidisiplin, yang terdiri dari ilmuwan, insinyur, dan pakar kebijakan, juga menjadi nilai tambah yang besar. Beliau dapat memastikan bahwa berbagai perspektif diintegrasikan secara efektif untuk mencapai tujuan riset yang ambisius, sekaligus menjaga agar proses riset tetap sesuai dengan standar etika dan integritas yang tinggi. Sinergi ini akan menjadi fondasi kuat bagi BRIN untuk tidak hanya menjadi pusat keunggulan riset, tetapi juga pilar penting dalam menjaga kedaulatan dan kemandirian teknologi Indonesia.

Visi dan Tantangan BRIN di Bawah Kepemimpinan Baru

Dengan hadirnya duet kepemimpinan Arif Satria dan Amarulla Octavian, BRIN diharapkan dapat merumuskan visi yang lebih tajam dan strategis. Visi ini kemungkinan besar akan berfokus pada penguatan ekosistem riset nasional yang terintegrasi, adaptif terhadap perubahan global, dan berorientasi pada solusi untuk permasalahan bangsa. Salah satu pilar visi tersebut adalah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia peneliti. Ini mencakup program beasiswa untuk studi lanjut, pelatihan metodologi riset terbaru, serta insentif bagi para ilmuwan untuk menghasilkan publikasi dan paten kelas dunia. Tujuannya adalah untuk menciptakan generasi peneliti yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa inovasi dan etos kerja yang tinggi.

Namun, mewujudkan visi tersebut bukanlah tanpa tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah harmonisasi berbagai budaya kerja yang berasal dari lembaga-lembaga riset yang berbeda sebelum dilebur menjadi BRIN. Setiap lembaga memiliki tradisi, birokrasi, dan sistem kerja yang unik, dan menyatukannya dalam satu entitas membutuhkan kepemimpinan yang persuasif dan adaptif. Kemudian, ada juga tantangan dalam menyelaraskan prioritas riset. Dengan anggaran yang terbatas, BRIN harus cermat dalam menentukan proyek-proyek riset mana yang paling strategis dan memiliki dampak terbesar bagi negara, menghindari fragmentasi sumber daya pada penelitian yang kurang relevan.

Tantangan lainnya adalah mendorong hilirisasi hasil riset. Banyak hasil penelitian yang berkualitas seringkali berhenti di tahap prototipe atau publikasi, tanpa mampu mencapai pasar atau diimplementasikan secara luas. BRIN perlu membangun jembatan yang lebih kuat antara dunia riset dengan industri dan pemerintah untuk memastikan bahwa invensi dan inovasi dapat berkembang menjadi produk atau kebijakan yang nyata. Dalam hal ini, pengalaman Amarulla Octavian dalam mengelola proyek-proyek besar di lingkungan militer, yang menuntut implementasi nyata dan terukur, akan sangat berharga. Selain itu, BRIN juga dihadapkan pada tantangan untuk membangun citra sebagai lembaga yang transparan, akuntabel, dan bebas dari kepentingan politik. Menciptakan kepercayaan publik dan komunitas ilmiah adalah kunci untuk menarik bakat terbaik dan mendapatkan dukungan yang berkelanjutan. Kepemimpinan yang kuat dan integritas tinggi dari Kepala dan Wakil Kepala BRIN akan menjadi faktor penentu dalam mengatasi semua tantangan ini dan membawa BRIN menuju era keemasan riset nasional.

Dampak dan Harapan untuk Masa Depan Riset Indonesia

Penunjukan kembali Amarulla Octavian sebagai Wakil Kepala BRIN membawa harapan besar bagi masa depan riset dan inovasi di Indonesia. Dengan latar belakang yang begitu kaya—sebagai purnawirawan perwira tinggi TNI AL, ilmuwan pertahanan, dan mantan rektor universitas—beliau diharapkan dapat memberikan dimensi baru pada kepemimpinan BRIN. Dampak yang paling terlihat kemungkinan besar adalah penguatan riset pertahanan dan keamanan nasional. Keterlibatan seorang Laksdya di BRIN dapat memastikan bahwa program-program riset strategis yang mendukung kemandirian alutsista, teknologi siber, dan intelijen buatan (AI) mendapatkan perhatian dan sumber daya yang memadai. Ini krusial untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Selain itu, pengalaman beliau di lingkungan akademik, khususnya di Unhan, memberikan modal untuk mengembangkan kapasitas sumber daya manusia BRIN. Beliau memahami pentingnya pendidikan berkelanjutan, kolaborasi antardisiplin, dan pembangunan budaya riset yang kuat. Diharapkan, di bawah kepemimpinan beliau, BRIN dapat menghasilkan lebih banyak peneliti berkualitas tinggi yang mampu bersaing di kancah internasional dan menghasilkan paten-paten inovatif. Hal ini juga akan mendorong peningkatan jumlah publikasi ilmiah yang relevan dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan global, sekaligus mengangkat reputasi Indonesia sebagai pusat riset.

Harapan lainnya adalah terciptanya sinergi yang lebih erat antara BRIN dengan berbagai kementerian/lembaga lain, serta dengan sektor industri. Pengalaman Amarulla Octavian dalam bekerja di lingkungan pemerintahan dan militer akan memfasilitasi komunikasi dan koordinasi lintas sektor, memastikan bahwa hasil-hasil riset BRIN dapat diadopsi dan diimplementasikan untuk kepentingan yang lebih luas. Ini termasuk mendorong transfer teknologi dari laboratorium ke industri, serta memberikan masukan berbasis riset untuk perumusan kebijakan publik yang lebih baik. Pada akhirnya, keberadaan Laksdya Octavian di BRIN diharapkan dapat menjadi katalisator bagi transformasi riset dan inovasi di Indonesia, menjadikannya lebih terarah, relevan, dan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing global.

Analisis Profil: Paduan Disiplin Militer dan Keilmuan

Menganalisis profil Amarulla Octavian mengungkap sebuah kombinasi yang jarang ditemukan: seorang perwira tinggi militer dengan komitmen akademik yang mendalam. Disiplin militer yang ditanamkan sejak pendidikan di AAL membentuk karakternya menjadi sosok yang tegas, terstruktur, dan berorientasi pada pencapaian tujuan. Kemampuan untuk memimpin, mengambil keputusan di bawah tekanan, dan mengelola operasi kompleks adalah aset tak ternilai yang dibawa ke BRIN. Dalam lingkungan riset, di mana seringkali ada berbagai proyek dan tim yang harus dikoordinasikan, disiplin militer ini dapat membantu menciptakan kerangka kerja yang efisien dan akuntabel. Pendekatan terstruktur ini sangat penting untuk proyek-proyek riset berskala besar yang membutuhkan koordinasi lintas sektor dan pemanfaatan sumber daya yang optimal.

Di sisi lain, perjalanan akademiknya hingga meraih gelar doktor dari salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Indonesia, menunjukkan kedalaman intelektual dan pemikiran kritisnya. Disertasi beliau tentang globalisasi dan transformasi institusi pendidikan militer mencerminkan kemampuannya untuk menganalisis isu-isu kompleks dari berbagai perspektif, termasuk sosiologis dan strategis. Ini membuktikan bahwa beliau bukan hanya seorang pelaksana, melainkan juga seorang pemikir yang mampu merumuskan konsep dan strategi. Keilmuan ini memungkinkan beliau untuk memahami nuansa-nuansa dalam setiap penelitian, mengevaluasi validitas metodologi, serta mengidentifikasi potensi implikasi dari temuan-temuan riset.

Paduan antara disiplin militer dan keilmuan ini memungkinkan Amarulla Octavian untuk tidak hanya melihat “apa” yang harus dilakukan dalam riset, tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa”. Ia dapat memastikan bahwa riset yang dilakukan BRIN tidak hanya memenuhi standar keilmuan yang tinggi, tetapi juga memiliki relevansi strategis dan dampak praktis yang kuat. Pendekatan ini sangat berharga untuk BRIN yang memiliki mandat luas, dari riset fundamental hingga pengembangan teknologi. Kombinasi ini juga menciptakan kepercayaan baik dari kalangan militer maupun akademisi, menjadikannya figur sentral yang mampu menyatukan berbagai pihak untuk tujuan riset dan inovasi nasional. Profilnya adalah representasi sempurna dari “ilmuwan pertahanan” yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi kekuatan nyata bagi bangsa.

Jejak Pengabdian: Dari Ajudan Presiden hingga Pucuk Riset Nasional

Perjalanan karir Amarulla Octavian adalah sebuah jejak pengabdian yang panjang dan beragam, dimulai dari posisi-posisi penting di lingkungan militer hingga kini menempati salah satu pucuk kepemimpinan di sektor riset nasional. Salah satu babak penting dalam perjalanan ini adalah ketika beliau dipercaya sebagai ajudan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Posisi ajudan presiden bukan sekadar pendamping, melainkan merupakan kesempatan emas untuk memahami secara langsung bagaimana roda pemerintahan berputar, bagaimana keputusan-keputusan strategis diambil, dan bagaimana dinamika politik memengaruhi arah kebijakan negara. Pengalaman ini membekali beliau dengan pemahaman yang mendalam tentang lanskap politik dan birokrasi Indonesia, yang sangat relevan untuk navigasi di lembaga sebesar BRIN.

Setelah itu, kepemimpinannya sebagai Rektor Universitas Pertahanan menunjukkan transisi dari peran militer operasional ke peran akademis-strategis. Di Unhan, beliau tidak hanya mengelola sebuah institusi pendidikan, tetapi juga membentuk generasi baru pemimpin pertahanan yang memiliki wawasan luas. Pengalaman ini mengasah kemampuannya dalam manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum, dan fasilitasi riset-riset pertahanan. Kemampuan ini menjadi fondasi penting untuk perannya di BRIN, di mana tantangan untuk mengelola ekosistem riset yang beragam jauh lebih kompleks dan multi-sektoral.

Kini, sebagai Wakil Kepala BRIN, beliau melanjutkan pengabdiannya di garis depan inovasi. Pelantikan kedua kalinya untuk posisi ini menunjukkan pengakuan atas kontribusi dan potensi yang beliau miliki. Dari seorang perwira yang menjaga keamanan dan kedaulatan negara, kemudian seorang pendidik yang membentuk intelektual pertahanan, hingga kini seorang pemimpin riset yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jejak pengabdian ini menggambarkan sebuah dedikasi yang tak tergoyahkan untuk kemajuan Indonesia, melalui jalur apapun yang dipercayakan kepadanya. Keberadaan beliau di BRIN diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak, bahwa sinergi antara berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman dapat menghasilkan dampak yang luar biasa bagi kemajuan bangsa. Ini adalah bukti bahwa pengabdian tidak mengenal batas bidang, melainkan berpusat pada komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi negara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Kapan dan oleh siapa Amarulla Octavian kembali dilantik sebagai Wakil Kepala BRIN?

Laksamana Madya TNI (Purn.) Dr. Amarulla Octavian dilantik kembali sebagai Wakil Kepala BRIN pada tanggal 10 November 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Pelantikan ini menegaskan kepercayaan pemerintah terhadap kapasitas dan rekam jejak beliau di bidang riset dan inovasi nasional, khususnya dalam menyinergikan aspek pertahanan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Apa keunikan latar belakang Amarulla Octavian dan mengapa relevan untuk BRIN?

Amarulla Octavian membawa perpaduan unik antara disiplin militer sebagai purnawirawan Laksamana Madya TNI AL, pengalaman akademik hingga jenjang doktor dari Universite Paris-Pantheon-Assas dan Universitas Indonesia, serta kepemimpinan di institusi pendidikan strategis seperti Universitas Pertahanan. Kombinasi ini sangat relevan untuk BRIN karena memungkinkan integrasi pemikiran strategis pertahanan dengan metodologi riset ilmiah, mendorong inovasi yang relevan dan berdampak bagi keamanan dan kemandirian bangsa.

Apa saja kontribusi yang diharapkan dari Amarulla Octavian di BRIN?

Peran utama Amarulla Octavian di BRIN adalah mendukung Kepala BRIN, Dr. Arif Satria, dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan riset, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi. Beliau diharapkan dapat memperkuat sinergi antara riset ilmiah dengan kebutuhan strategis negara, terutama di bidang pertahanan dan keamanan, serta mendorong hilirisasi hasil-hasil riset menjadi produk dan kebijakan konkret yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Kesimpulan

Perjalanan karir Laksamana Madya TNI (Purn.) Dr. Amarulla Octavian dari seorang perwira tinggi militer hingga kini menjadi Wakil Kepala BRIN adalah cerminan dari dedikasi, keilmuan, dan kepemimpinan yang multidimensional. Pengalamannya yang kaya, mulai dari pendidikan di Akademi Angkatan Laut, gelar doktor dari Universitas Indonesia dengan disertasi yang relevan, hingga kepemimpinan transformasional di Universitas Pertahanan, membuktikan bahwa beliau adalah sosok yang mampu membawa perspektif unik ke dalam dunia riset dan inovasi. Penunjukan kembali beliau di BRIN, bersamaan dengan Dr. Arif Satria sebagai Kepala BRIN, diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat antara kebutuhan pertahanan negara dengan upaya riset dan pengembangan teknologi. Kontribusi Amarulla Octavian diprediksi akan memperkuat fondasi riset strategis, meningkatkan efisiensi manajerial, dan mendorong hilirisasi hasil riset untuk kemajuan bangsa. Mari kita dukung penuh langkah-langkah BRIN di bawah kepemimpinan baru ini dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang mandiri dan berdaya saing global melalui inovasi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai strategi pembangunan dan riset di Indonesia, Anda dapat mencari berbagai sumber resmi yang tersedia.